Di tengah gempuran modernisasi, masih ada tradisi yang bertahan dan menjadi perekat sosial masyarakat adat Lampung Saibatin. Tradisi itu bernama Nukhun Ajang — sebuah warisan budaya yang sarat makna kebersamaan, baik dalam suasana suka maupun duka.
Secara sederhana, “Nukhun” berarti iuran, sedangkan “Ajang” dalam bahasa Lampung Saibatin bermakna hidangan. Bila digabungkan, Nukhun Ajang dapat diartikan sebagai kegiatan iuran bersama untuk menghadirkan hidangan pada suatu acara. Namun lebih dari sekadar urunan, tradisi ini adalah cerminan solidaritas masyarakat yang saling menopang.
Momen-Momen Nukhun Ajang
Tradisi ini biasanya digelar pada saat-saat tertentu, seperti Anjau Silau (pertemuan adat dan silaturahmi), pernikahan, perayaan Idulfitri, hingga tujuh hari kematian. Dalam setiap kesempatan, warga secara sukarela memberikan sumbangan, entah berupa uang, bahan makanan, maupun tenaga. Hasilnya kemudian digunakan untuk menyajikan jamuan bagi tamu atau peserta acara.
Di balik sajian sederhana itu, tersimpan pesan bahwa kebersamaan membuat segala hal terasa lebih ringan. Seperti pepatah lama, “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.”
Lebih dari Sekadar Hidangan
Bagi masyarakat adat Lampung Saibatin, Nukhun Ajang adalah sarana memperkuat ikatan sosial. Tradisi ini menegaskan bahwa kebahagiaan akan lebih bermakna bila dibagi, dan kesedihan akan terasa lebih ringan bila ditanggung bersama.
Dalam konteks budaya, Nukhun Ajang juga menjadi penanda bahwa gotong royong bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata yang terus dijaga. Di era ketika individualisme kian menguat, tradisi ini menghadirkan wajah lain: wajah masyarakat yang guyub, peduli, dan selalu siap saling membantu.
Warisan yang Perlu Dijaga
Nukhun Ajang bukan hanya ritual turun-temurun, tetapi juga sebuah kearifan lokal yang mengajarkan nilai kemanusiaan. Ia menjadi bukti bahwa adat tidak pernah ketinggalan zaman, justru semakin relevan ketika masyarakat modern merindukan rasa kebersamaan.
Bagi generasi muda Lampung, mengenal dan melestarikan Nukhun Ajang berarti menjaga identitas dan akar budaya. Karena pada akhirnya, tradisi ini bukan hanya tentang iuran dan hidangan, melainkan tentang rasa “sai batin” — satu hati dalam suka maupun duka.(Red)








