Menu

Mode Gelap
Aksi Nyata di Hari Jumat, Arman Asisten Bagikan 1000 Paket Takjil di Sepanjang Jalur Way Lima – Gedong Tataan Evakuasi Dramatis Jasad Pemuda di Ulu Belu Tanggamus: Petugas Terjang Jurang dan Hutan 4 Jam Pengamanan Pangan dalam High Level Meeting TPID Jelang Ramadhan Syukuran 80 Tahun Intelijen Polri, Ditintelkam Polda Lampung Gelar Yasinan dan Santuni Anak Yatim Sambut Tahun 2026, DPD PPNI Pesawaran sekaligus Presidium Cukuh Bandakh Lima Serukan Pesan Damai dan Kesiapsiagaan Polres Tanggamus Intensifkan Patroli Pantai Kota Agung Timur, Antisipasi Premanisme dan Pungli Jelang Tahun Baru 2026

Edukasi

Nukhun Ajang: Tradisi Kebersamaan yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat Adat Lampung Saibatin

badge-check


					Nukhun Ajang: Tradisi Kebersamaan yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat Adat Lampung Saibatin Perbesar

Di tengah gempuran modernisasi, masih ada tradisi yang bertahan dan menjadi perekat sosial masyarakat adat Lampung Saibatin. Tradisi itu bernama Nukhun Ajang — sebuah warisan budaya yang sarat makna kebersamaan, baik dalam suasana suka maupun duka.

Secara sederhana, “Nukhun” berarti iuran, sedangkan “Ajang” dalam bahasa Lampung Saibatin bermakna hidangan. Bila digabungkan, Nukhun Ajang dapat diartikan sebagai kegiatan iuran bersama untuk menghadirkan hidangan pada suatu acara. Namun lebih dari sekadar urunan, tradisi ini adalah cerminan solidaritas masyarakat yang saling menopang.

Momen-Momen Nukhun Ajang

Tradisi ini biasanya digelar pada saat-saat tertentu, seperti Anjau Silau (pertemuan adat dan silaturahmi), pernikahan, perayaan Idulfitri, hingga tujuh hari kematian. Dalam setiap kesempatan, warga secara sukarela memberikan sumbangan, entah berupa uang, bahan makanan, maupun tenaga. Hasilnya kemudian digunakan untuk menyajikan jamuan bagi tamu atau peserta acara.

Di balik sajian sederhana itu, tersimpan pesan bahwa kebersamaan membuat segala hal terasa lebih ringan. Seperti pepatah lama, “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.”

Lebih dari Sekadar Hidangan

Bagi masyarakat adat Lampung Saibatin, Nukhun Ajang adalah sarana memperkuat ikatan sosial. Tradisi ini menegaskan bahwa kebahagiaan akan lebih bermakna bila dibagi, dan kesedihan akan terasa lebih ringan bila ditanggung bersama.

Dalam konteks budaya, Nukhun Ajang juga menjadi penanda bahwa gotong royong bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata yang terus dijaga. Di era ketika individualisme kian menguat, tradisi ini menghadirkan wajah lain: wajah masyarakat yang guyub, peduli, dan selalu siap saling membantu.

Warisan yang Perlu Dijaga

Nukhun Ajang bukan hanya ritual turun-temurun, tetapi juga sebuah kearifan lokal yang mengajarkan nilai kemanusiaan. Ia menjadi bukti bahwa adat tidak pernah ketinggalan zaman, justru semakin relevan ketika masyarakat modern merindukan rasa kebersamaan.

Bagi generasi muda Lampung, mengenal dan melestarikan Nukhun Ajang berarti menjaga identitas dan akar budaya. Karena pada akhirnya, tradisi ini bukan hanya tentang iuran dan hidangan, melainkan tentang rasa “sai batin” — satu hati dalam suka maupun duka.(Red)

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dewas BPJS Kesehatan Siruaya Utamawan Gandeng Serikat Pekerja Perkuat Dukungan Program JKN

8 Desember 2025 - 17:38 WIB

Masjid At-Taqwa, Memadukan Kekuatan Religi dan Daya Tarik Wisata

16 Oktober 2025 - 08:26 WIB

MAJELIS PENYIMBANG ADAT LAMPUNG GELAR RAKERDA

30 Juli 2025 - 11:09 WIB

Historis Pariwisata Kabupaten Pesawaran: Permata Tersembunyi Lampung Menjelma Destinasi Unggulan

24 Juli 2025 - 07:04 WIB

Pembentukan Pengurus Karang Taruna Pekon Badak, Harapan Sinergi untuk Kemajuan Seni, Budaya, dan Pariwisata

23 Juli 2025 - 12:02 WIB

Trending di Daerah